Minggu, 19 Juli 2026
Rabu, 07 Februari 2024
Komik Jaka Tarub
Minggu, 04 Februari 2024
Pantat Cebanan
Jumat, 02 Februari 2024
Jaka Tarub
Selasa, 23 Januari 2024
Explore AI + Capcut
Ayo tidur siang.
Ilustrasi dibuat dengan menggunakan Bing, untuk beberapa bagian animasi karakternya dibuat dengan Pika, Runway apk "free" dan diedit mengunakan aplikasi Capcut.
Menceritakan tentang keingintahuan seorang anak saat diperintahkan sang ibu untuk tidur siang, saat sedang asik dengan ikan peliharaannya.
Mendengar itu si anak menjadi penasaran akan bagai mana cara ikan tidur.
Dengan kebijaksanaan dan pengetahuannya, sang ibu menjelaskan kepada anaknya, bahwa setiap mahluk hidup butuh tidur.
Begitu juga dengan ikan.
Selasa, 25 Juli 2023
Kungkong Si Pengeluh
Kungkong Si Pengeluh
Oleh: Sukma Ramadhan
Halaman 1:
Di sebuah hutan, hiduplah seekor katak bernama Kungkong. Kungkong memiliki kebiasaan yang selalu mengeluh tentang segala hal. Entah itu tentang kekurangan dirinya, tentang cuaca, makanannya, atau bahkan tentang teman-teman hewan lainnya. Teman-teman hewan di hutan menjadi jengkel mendengar keluhan tak henti dari Kungkong.
Halaman 2:
Suatu hari, ketika Kungkong sedang duduk di atas daun, teman-teman hewan datang bersama-sama. Mereka ingin mengajak Kungkong bermain dan menikmati hari yang cerah bersama-sama, namun Kungkong malah mulai mengeluh tentang udara yang terlalu panas.
"Kungkong, kamu selalu saja mengeluh tentang cuaca. Mengapa kamu tidak mencoba menikmati hari yang indah ini?" ujar Mimi, si tupai.
Halaman 3:
Namun, Kungkong tetap mengeluh. "Aku merasa sangat gerah, dan ini tidak nyaman bagiku!" ucapnya sambil melompat ke bawah.
Teman-teman hewan lainnya merasa kecewa dengan sikap Kungkong yang selalu negatif.
"Sudah lah Mimi kita biarkan saja" ujar Bony si Babon.
"Kalau kita ajak main bola pun dia pasti mengeluh kenapa bolanya bulat, hehehe" ledek Merry si Bebek.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Kungkong seorang diri dengan keluhan yang seperti tak pernah habis keluar dari mulutnya.
Halaman 4:
Setelah itu ia melanjutkan sikap bermalas-malasannya di atas sebuah pohon yang tumbang, sambil memandang langit dan mengeluhkan suasana yang panas. Dia mulai mengerutu karena di langit tidak ada segumpal awanpun yang terlihat disana.
Halaman 5:
Sesaat dia melihat burung-burung yang terbang bebas melintas di langit, diapun mulai iri dan mengeluh lagi, kali ini tentang bagaimana dia tidak bisa terbang seperti burung-burung itu.
"Kenapa aku tidak bisa terbang? Hidupku begitu membosankan!"
Keluhnya dengan sedih.
Halaman 6:
Tiba-tiba, dari balik semak-semak muncul Pak Tua Burung Hantu, yang sejak tadi memperhatikan dan mendengarkan keluhan-keluhan Kungkong. Burung Hantu itu sangat bijaksana dan sering memberikan nasihat kepada hewan-hewan di hutan.
"Kungkong, kenapa kamu selalu mengeluh? Mengapa kamu tidak menghargai apa yang kamu miliki? Setiap hewan memiliki keistimewaan sendiri, dan kamu juga begitu," kata Pak Tua Burung Hantu dengan lembut.
Halaman 7:
Kungkong merenungkan kata-kata Pak Tua Burung Hantu. Dia memang tidak bisa terbang, tapi dia memiliki kemampuan melompat tinggi dan berenang dengan cepat. Mungkin dia harus menghargai kemampuan itu daripada selalu mengeluh tentang apa yang tidak dimilikinya.
Halaman 8:
Malam itu, Kungkong duduk sendirian di batu besar di tepi kolam. Dia memandang permukaan air yang tenang dan mulai merenung. Dia menyadari bahwa selama ini dia hanya fokus pada kekurangan dirinya dan mengabaikan hal-hal baik yang dimilikinya.
Halaman 9:
"Memang benar bahwa aku tidak bisa terbang, tetapi aku hebat dalam melompat dan berenang! Aku harus lebih menghargai kemampuan yang aku punya," pikir Kungkong dalam hati.
Halaman 10:
Keesokan harinya, Kungkong bangun dengan semangat baru. Dia mengikuti teman-teman hewan lainnya yang sedang bermain sepak bola di padang rumput. Kungkong merasa senang karena dia bisa melompat dengan lincah dan berlari cepat.
Halaman 11:
Teman-teman hewan lainnya kaget melihat perubahan sikap Kungkong. Mereka senang melihatnya lebih bahagia dan bersemangat.
"Bony terima umpan ku ini, tendang yang kuat jangan sampai di rebut lawan!" Ujar Kungkong sambil menendang bola ke Bony si Babon.
Halaman 12:
Mereka semua bergembira bermain sepak bola. Kungkong melompat dengan lincah dan berusaha yang terbaik dalam permainan. Meskipun tidak berhasil mencetak gol terlihat Kungkong sangat menikmati permainan itu.
Halaman 13:
Setelah puas bermain bola, Kungkong dan teman-temannya duduk beristirahat bersama di bawah pohon rindang.
"Kungkong, kamu berubah menjadi lebih positif dan ceria. Itu sungguh hal yang baik loh!" ujar Mimi dengan senyum.
Halaman 14:
Kungkong tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Mimi. Aku belajar bahwa mengeluh tidak akan mengubah apa pun. Aku harus lebih menghargai diri sendiri dan hidupku."
Halaman 15:
Sejak saat itu, Kungkong menjadi lebih bahagia dan lebih menyenangkan untuk ditemani. Dia berhenti mengeluh tentang segala hal dan mulai menghargai kemampuan yang dimilikinya. Teman-teman hewan lainnya juga semakin menyukai Kungkong karena sikapnya yang positif dan sangat perhatian kepada mereka.
Selesai.
Minggu, 23 Juli 2023
Tiko Teman Setia Ku
Tiko Teman Setia Ku
Karya: Sukma Ramadhan
Halaman 1:
Beru adalah beruang kecil yang tinggal di hutan yang indah. Dia memiliki sahabat akrab bernama Tiko, si tikus tanah. Mereka selalu bermain dan berpetualang bersama-sama. Namun, suatu hari, segalanya berubah.
Halaman 2:
Hari itu Beru sangat bersemangat karena dia menemukan tempat bermain yang baru dan menarik di hutan. Dia dengan cepat berlari menuju rumah Tiko untuk mengajaknya bermain. Namun, Tiko dengan sedih mengatakan bahwa dia harus menjaga rumah karena perintah dari orang tuanya yang tengah pergi. Beru merasa kecewa dan marah. Dia merasa bahwa Tiko tidak mau lagi bermain bersamanya.
Halaman 3:
Akhirnya sejak peristiwa itu, mereka berdua saling melewatkan hari-hari bermain dengan berpetualang seorang diri. Beru menjadi merasa kesepian dan sedih. Dia merindukan Tiko dan petualangan mereka. Tiko juga merasa sedih karena merindukan sahabatnya.
Halaman 4:
Beberapa kali Tiko mencoba menemui Beru, tetapi selalu tidak ada di rumah. Sementara Beru masih menganggap Tiko tidak mau lagi bermain dengan nya hingga ia tidak berani datang ke rumah Tiko untuk mengajak bermain bersama.
Halaman 5:
Suatu hari, Beru memutuskan untuk pergi bermain sendiri di hutan. Tampa sengaja Dia terperosok ke dalam lubang jebakan yang dibuat oleh pemburu. Hampir setengah harian Beru terjebak dilubang jebakan itu.
Halaman 6:
Beru berteriak minta tolong dengan putus asa, tetapi tak ada siapapun yang mendengar jeritannya. Dia merasa takut kalau nanti tidak ada yang bisa menemukan dan mulai membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpanya. Tiba-tiba, dia mendengar suara kaki kaki yang tengah melintas tak jauh dari tempatnya terjebak. Dengan sekuat tenaga Beru pun berteriak sekencang-kencangnya dan berharap orang yang tengah melintas dapat mendengar suaranya.
Halaman 7:
Beruntung orang yang melintas itu ternyata adalah Tiko yang kebetulan juga tengah bermain sendiri. Tiko Terkejut mendengar suara teriakan seperti suara Beru, yang sangat ia kenali.
Halaman 8:
Dia segera mencari sumber suara itu dan akhirnya Tiko pun menemukan Beru yang terperosok dalam lubang yang dalam. Tiko segera berusaha memberikan pertolongan dengan menggapai Beru menggunakan tangannya tetapi tidak bisa mencapainya.
Halaman 9:
Tiko tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa putus asa. Tapi kemudian, dia memiliki ide. Dia ingat ada sebuah cerita tentang seekor serigala yang berhasil melarikan diri dari perangkap dengan membuat lubang baru yang menyamping dan tidak terlalu curam.
Halaman 10:
Tiko memutuskan untuk membuat lubang baru itu, dia sangat yakin sebagai seekor tikus tanah yang dengan dengan kemampuan alaminya bisa membuat lubang dengan cepat.
Halaman 11:
Tiko bekerja keras dan berhati-hati. Dia membuat lubang baru yang melintasi lubang di mana Beru terperosok. Dia berusaha membuatnya aman dan tidak terlalu curam agar Beru bisa meloloskan diri.
Halaman 12:
Beru merasa harapannya datang ketika dia melihat lubang penyelamatan yang dibuat Tiko. Dia merasa begitu bersyukur memiliki sahabat yang setia seperti Tiko. Akhirnya Beru bisa merayap keluar melalui lubang penyelamatan yang dibuat Tiko.
Halaman 13:
Beru dan Tiko saling berpelukan. Mereka merasa begitu bahagia bisa bersama lagi. Beru menyadari betapa pentingnya persahabatan dan bahwa Tiko masih sahabat setianya.
Halaman 14:
Ketika mereka berjalan pulang, Beru dan Tiko berbicara dan berbagi cerita-cerita yang telah mereka alami selama mereka terpisah.
Halaman 15:
Mereka berjanji untuk tidak pernah lagi mengabaikan atau meremehkan satu sama lain.
Dari hari itu, mereka menyadari dengan tidak selalu bermain bersama bukan berarti mereka tidak mau berteman lagi.
Selesai.
Minggu, 16 Juli 2023
Kisah Dua Petani
Kisah Dua Petani
Karya: Sukma Ramadhan.
Halaman 1:
Di sebuah desa kecil yang damai, hiduplah dua petani yang rajin, Pak Musang dan Pak Kelinci. Mereka hidup bertetangga dan setiap pagi, mereka berangkat ke ladang bersama-sama.
Halaman 2:
Suatu pagi yang cerah, saat mereka berdua berangkat menuju ladangnya. Di tengah perjalanan, Pak Musang menemukan sekeping uang di pinggir jalan. Wajahnya berseri-seri, terlihat sangat gembira dengan temuan tak terduga tersebut. Pak Kelinci, yang juga melihat kejadian ini, memperhatikan dengan rasa ingin tahu.
Halaman 3:
Dalam kegembiraannya, Pak Musang berpikir bahwa menemukan uang di jalan adalah tanda keberuntungan besar. "Ayo lekas kita jalan lagi nanti terburu terik sampai di ladang kita," ajak Pak Kelinci, berharap agar mereka tidak terlambat dalam pekerjaan mereka.
Halaman 4:
Namun, kejadian itu memberikan pemikiran yang berbeda kepada Pak Musang. "Kamu berangkat saja duluan...aku pikir selama ini aku mengerjakan hal yang sia-sia," ujar Pak Musang dengan keraguan dalam hatinya. Selama bertahun-tahun, ia telah bertani dengan tekun, tetapi hidupnya tetap terasa kekurangan.
Halaman 5:
Pak Musang melanjutkan, "Aku tidak mau bertani lagi. Mulai sekarang, aku akan berkeliling kampung saja menyusuri jalan-jalan. Dengan begitu, pasti aku akan menemukan lebih banyak lagi kepingan uang. Aku yakin, aku tidak akan kekurangan uang lagi nantinya." Pak Kelinci terdiam, tak menyangka bahwa tetangganya yang rajin berubah pikiran secepat itu.
Halaman 6:
Maka sejak peristiwa itu, Pak Musang tidak pernah lagi mengurus ladangnya. Ia terlena dengan harapan menemukan keberuntungan lainnya di jalanan. Sementara itu, Pak Kelinci tetap bekerja dengan rajin, merawat tanaman di ladangnya seperti biasa.
Halaman 7:
Sesekali, Pak Musang masih bisa menemukan beberapa kepingan uang di jalanan. Namun, lama kelamaan, keberuntungan itu menjauhinya. Uang yang ditemukannya semakin jarang, dan kesulitan hidup mulai menimpanya.
Halaman 8:
Hingga waktu panen tiba, Pak Kelinci mendapatkan hasil yang sangat melimpah dari ladangnya yang dikelola dengan baik. Tanaman yang ia rawat dengan teliti menghasilkan buah yang besar dan berlimpah. Ia bahagia melihat jerih payahnya membuahkan hasil.
Halaman 9:
Sementara itu, Pak Musang, meskipun terlambat menyadari kekeliruannya, mulai mengurus lagi ladang yang ditinggalkannya. Namun, karena ia tidak memberikan perhatian yang cukup selama ini, ladangnya tidak dalam kondisi yang baik. Hasil yang ia dapatkan tidak sesuai dengan harapannya.
Halaman 10:
Pak Musang menyesali keputusannya Ia merasa bersalah telah menelantarkan ladangnya yang seharusnya ia rawat dengan baik. Ia menyadari bahwa menemukan uang di jalan hanyalah keberuntungan sementara, sedangkan bertani adalah pekerjaan yang memberikan hasil jangka panjang.
Halaman 11:
Pak Musang mulai menyadari keputusannya yang gegabah. Ia meminta nasihat dan bantuan untuk memperbaiki ladangnya. Pak Kelinci, yang selalu bijaksana, memberikan dukungan dan memberitahu Pak Musang bahwa terkadang keberuntungan semu hanya mengaburkan pandangan kita terhadap pekerjaan yang sebenarnya.
Halaman 12:
Dengan semangat baru, Pak Musang dan Pak Kelinci bekerja dengan lebih giat lagi. Mereka tak kenal lelah merawat tanaman-tanaman di ladangnya . Keduanya belajar dari kesalahan dan kekurangan masing-masing dengan menunjukkan kegigihan dan kesungguhan dalam bertani yang sangat luar biasa.
Halaman 13:
Waktu berlalu, dan dengan perawatan yang baik, ladang Pak Musang kembali berbuah dengan baik. Hasil panen mereka kini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan bahkan memiliki kelebihan untuk dijual. Kehidupan Pak Musang kembali sejahtera berkat tekad dan kerja kerasnya.
Halaman 14:
Akhirnya, mereka semua mengerti bahwa kehidupan yang sukses tidak hanya didasarkan pada keberuntungan semata, tetapi pada usaha dan kerja keras yang terus-menerus di upayakan dengan sungguh-sungguh.
Selesai.
Senin, 10 Juli 2023
Keong Siput dan Kura-kura
Di sebuah hutan yang rimbun, hiduplah seekor keong siput bernama Keo dan seekor kura-kura bernama Kuro. Mereka berdua sudah lama hidup dalam cangkang rumah mereka masing-masing.
Namun suatu hari, mereka merasa bosan dengan cangkang yang mereka miliki dan merasa tertarik dengan cangkang rumah satu sama lain.
Suatu pagi, saat Keo dan Kuro berjalan di jalan setapak yang sama, mereka berpapasan. Dalam percakapan mereka, mereka mulai berbagi kebosanan yang mereka rasakan terhadap cangkang rumah mereka.
Tanpa berpikir panjang, mereka memutuskan untuk bertukar cangkang agar dapat merasakan pengalaman baru.
Namun, saat mereka mencoba mengubah cangkang, mereka menyadari bahwa cangkang tersebut tidak sesuai dengan ukuran tubuh mereka.
Cangkang yang Keo coba kenakan terlalu besar dan berat baginya, sedangkan cangkang yang coba dikenakan Kuro terlalu kecil dan sempit.
Mereka berdua merasa terjebak dan tidak nyaman dalam cangkang yang tidak sesuai ukuran. Keo si keong siput tidak bisa bergerak dengan bebas di dalam cangkang yang terlalu besar, sementara Kuro si kura-kura merasa sesak di dalam cangkang yang terlalu sempit.
Setelah berjuang mencoba mengenakan cangkang baru, mereka akhirnya sadar akan kekeliruan mereka. Mereka menyadari bahwa cangkang rumah mereka sendiri sebenarnya telah cocok dengan tubuh mereka dan memberikan perlindungan yang diperlukan.
Keo dan Kuro akhirnya menyadari bahwa mereka telah mengabaikan kelemahan dan kelebihan cangkang mereka sendiri. Keo merasa bersyukur atas cangkang siputnya yang ringan dan mudah dibawa, memungkinkannya menjelajahi dunia dengan merayap kesana kemari. Kuro juga menyadari bahwa cangkang kura-kuranya memberikan perlindungan yang kokoh dan memberi kelebihan dalam menghadapi bahaya.
Mereka berdua merasa menyesal karena kekurang bersyukurannya selama ini, atas keinginan mereka untuk memiliki cangkang rumah yang berbeda. Mereka menyadari bahwa apa yang mereka miliki sebenarnya telah memberikan keseimbangan dan keamanan yang tepat.
Tak berapa lama, Keo dan Kuro pun akhirnya memutuskan untuk kembali bertukar cangkang rumahnya dan mengenakan cangkang asli mereka masing-masing mereka berdua akhirnya menghargai apa yang telah mereka miliki. Mereka merasa lega dan nyaman saat cangkang asli mereka melindungi kembali dan memuat tubuh mereka dengan sempurna.
Dari pengalaman ini, Keo dan Kuro belajar untuk tidak meremehkan atau menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Mereka sangat bersyukur atas apa yang telah mereka miliki dan menerima diri mereka sendiri dengan segala keunikan dan kelebihan yang dimiliki.
Dengan senyuman bahagia, Keo dan Kuro melanjutkan perjalanan hidup mereka, dan kembali menikmati hidup dalam cangkang rumah mereka sendiri.
Selesai.
Commuter line Jakarta-Depok.
11 Juli 2023.
Jumat, 30 Juni 2023
Pingu Tersesat
Oleh Sukma Ramadhan
Halaman 1:
Hari itu, Kumbi, Mutmut, Pingu dan Chaki, pergi berpetualang mendaki bukit kecil yang terletak di dekat desa mereka. Tak lupa mereka membawa bekal makanan, minuman yang dimasukan ke dalam ransel bawaannya masing-masing, Chaki yang mempunyai maksud tersendiri tampak juga membawa layang-layang yang dia gantungkan di ransel bawaannya.
Halaman 2:
Sambil bernyanyi-nyanyi, mereka mulai mendaki bukit kecil tersebut. Sepanjang perjalanan, mereka disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Bunga-bunga berwarna-warni dan burung-burung yang berkicau membuat mereka semakin bersemangat.
Halaman 3:
Tiba-tiba mata Pingu tertuju pada seekor kupu-kupu yang terbang melintas di hadapannya, dan hinggap di dahan pohon bunga. Pingu merasa terpesona oleh keindahan kupu-kupu tersebut dan bergegas menghampirinya.
Halaman 4:
Saat hampir mendekatinya, tiba-tiba kupu-itu melesat terbang menjauh. Pingu yang penasaran mengikuti kupu-kupu itu dengan hati yang penuh kekaguman. Namun, semakin lama Pingu mengikuti kupu-kupu, Pingu tidak menyadari kalau dia sudah semakin jauh terpisah dari teman-temannya. Pingu sangat panik dan merasa cemas ketika menyadari itu.
Halaman 5:
Sementara Kumbi, Mutmut, dan Chaki tetap melanjutkan perjalanan mereka tanpa menyadari bahwa Pingu telah terpisah dari rombongannya.
Halaman 6:
Setelah beberapa saat, mereka menyadari bahwa Pingu tidak ada di antara mereka. Mereka mulai mencari-cari Pingu, memanggil-manggil namanya, namun tak ada jawaban.
Halaman 7:
Semua mulai merasa semakin khawatir. Tiba-tiba, Kumbi mendapatkan sebuah ide. Dia meminjam layang-layang yang dibawa Chaki dan memutuskan untuk menerbangkannya agar Pingu bisa melihatnya dari jauh.
Halaman 8:
Kumbi di bantu Mutmut kemudian menerbangkan layang-layang yang berwarna cerah itu ke langit. Mereka berharap Pingu bisa melihat layang-layang mereka dan mencari sumbernya.
Halaman 9:
Sementara Chaki tidak mau membantu, ia terus bersungut-sungut tidak rela layangannya di pinjam oleh Kumbi. Chaki merasa khawatir kalau-kalau nanti layangannya putus, ia jadi tidak bisa memainkannya nanti setiba di puncak bukit seperti yang di rencanakan nya.
Halaman 10:
Benar saja beberapa menit kemudian, Pingu melihat layang-layang yang indah terbang di langit. Hatinya berdebar kencang. Dia segera menyadari bahwa itu berasal dari teman-temannya yang sedang mencarinya. Pingu pun mengikuti jejak layang-layang tersebut dengan harapan dapat menemukan teman-temannya.
Halaman 11:
Akhirnya Pingu berhasil menemukan Kumbi, Mutmut, dan Chaki di sebuah dataran kecil, yang di tengahnya terdapat pohon beringin besar. Mereka semua merasa sangat bahagia bisa berkumpul kembali.
Halaman 12:
Tak lama Chaki yang tidak sabaran meminta teman-temannya untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka telah bersepakat agar tidak lagi ada yang memisahkan diri dan harus selalu tetap berada dalam rombongan.
Halaman 13:
Tak lama berselang, Mereka pun tiba di puncak bukit kecil dan disambut oleh pemandangan yang memukau. Udara segar dan mereka semua semakin terpesona melihat hamparan pemandangan di bawahnya.
Halaman 14:
Sambil duduk berjajar, Kumbi, Pingu dan Mutmut mengunyah bekal yang mereka bawa masing-masing, dan menikmati moment tersebut dengan gembira. Semetara Chaki terlihat asik mulai berusaha menerbangkan layangannya.
Halaman 15:
Hari hampir senja merekapun memutuskan untuk turun dari bukit dan kembali ke desa. Mereka berjalan beriringan sambil berbicara tentang petualangan mereka dan merencanakan petualangan selanjutnya.
Selesai.
Rabu, 28 Juni 2023
Si Pencuri Bulan.
Selasa, 27 Juni 2023
Ulat Kertas
Ulat Kertas
Oleh: Sukma Ramadhan.
Halaman 1
Suatu hari, Kumbi, Mutmut, Pingu, dan Chaki berkumpul bersama Pak Profesor Belalang di kebun buah tempat profesor itu melakukan penelitian tentang berbagai macam buah-buahan. Mereka memang sering bermain bersama dan menjelajahi kebun yang indah itu. Terlihat Kumbi dan Pingu tampak asik membantu Pak Profesor Belalang yang tengah menyiapkan pohon jambu yang hendak mereka tanam, dan Chaki terlihat asik memainkan alat yang sering di gunakan memotong batang pohon saat Pak Profesor memetik buah nya.
Halaman 2
Sementara, Mutmut berlari kesana kemari dengan keranjang buah yang tampak sudah terisi beberapa buah mangga yang ia petik. Tiba-tiba, Mutmut terkejut dan berteriak heboh. Dia melihat ulat kecil yang bersembunyi di antara daun pohon jambu air yang hendak dia petik. Mendengar jeritan itu, Kumbi, Pingu, dan Chaki segera berlari mendekatinya, ingin tahu apa yang terjadi.
Halaman 3
Namun, Chaki yang bandel malah menertawai Mutmut yang tengah ketakutan. Dengan berani dan tanpa rasa jijik, Chaki mengambil ulat itu dan melemparnya jauh-jauh. Melihat aksi Chaki, Kumbi segera menegurnya, "Chaki, kenapa kau malah melempar ulat itu? Seharusnya kita biarkan dia tetap berada di daun."
Halaman 4
"Iya," sela Pingu, "mungkin dia sedang kelaparan dan mencari makanan. Kita seharusnya memberinya kesempatan untuk hidup." Sambungnya lagi.
"Halah, biarkan saja dia mati. Dia hanya akan mengganggu kita bermain saja." Jawab Chaki enteng dengan sikap cueknya.
Halaman 5
Pak Profesor Belalang yang baru saja selesai menanam pohon jambu mendekati mereka, penasaran dengan keributan yang terjadi. "Ada apa ribut-ribut? Apa ada masalah?" tanya Pak Profesor Belalang.
Halaman 6
Kumbi dengan sigap menceritakan semua yang terjadi kepada profesor dan menjelaskan tindakan Chaki. Pak Profesor Belalang tersenyum dan mengingatkan, "Untung ulat itu bukan jenis ulat bulu yang bisa membuat kita gatal-gatal jika disentuh, tapi bukan berarti kita boleh sembarangan menyakiti makhluk hidup, kan?"
Halaman 7
"Benar juga," ujar Mutmut penasaran, "jadi sebenarnya ulat itu tidak berbahaya?"
Pak Profesor Belalang menggeleng, "Sebenarnya tidak berbahaya, tetapi ulat bukanlah untuk dijadikan teman bermain. Mereka memiliki peran dan habitat mereka sendiri dalam ekosistem."
Halaman 8
"Lalu, jika kami ingin bermain dengan ulat, apa yang bisa kami lakukan?" tanya Kumbi dengan rasa penasaran.
Pak Profesor Belalang tersenyum dan mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya, "Kalau begitu, ayo ikut paman ke dalam. Kita akan membuat mainan ulat dari kertas karton."
"Ulat mainan yang akan kita buat pun bisa berjalan loh." lanjutnya menggoda.
Halaman 9
Mendengar itu mereka semua antusias mengikuti Pak Profesor Belalang ke dalam rumahnya. Di sana, Profesor Belalang memberikan mereka kertas karton dan mengajar mereka cara membuat ulat mainan.
Halaman 10
Pak Profesor Belalang segera memainkan gunting nya dengan sangat terampil, kertas karton yang sudah dilipat-lipatnya kemudian di gunting setiap sisinya hingga membentuk seperti ulat, tak lupa ia memberikan mata di ujung kepala ulat hingga terlihat tampak lucu.
Sambil membagi-bagikan mainan tak lupa Pak Profesor Belalang pun memberitahukan cara memainkan ulat mainannya.
"Kalian hanya tinggal meniup nya dengan sedotan ini, nanti ulatnya akan berjalan seperti ulat sungguhan." Ujarnya sambil mebagi-bagikan sedotan plastik.
Halaman 11
Tak lama Kumbi dan semua teman-temannya masing-masing sudah dapat mainan ulat beserta sedotan alat peniupnya dari Pak Profesor Belalang, semuanya tampak bersorak gembira.
"Ayo kita adu balapan ulat." Tantang Chaki.
"Ayo...Ayo." Balas Kumbi dan Mutmut.
Halaman 12
Semetara Pingu memilih memainkannya terpisah, ia tampak sangat asyik meniup sedotan kecil ke ulat mainan yang mereka buat. Ulat mainan itu pun bergerak-gerak seperti ulat sesungguhnya. Mereka tertawa ceria melihat ulat mainan mereka bisa berjalan.
Halaman 13
Pak Profesor Belalang menjelaskan kepada mereka, "Ternyata, dengan sedikit kreativitas, kita bisa membuat mainan yang menyerupai ulat sesungguhnya. Ini mengajarkan kita untuk menghargai makhluk hidup dan menumbuhkan rasa empati terhadap mereka."
Halaman 14
Kumbi kemudian bertanya, "Profesor, apakah ulat mainan ini bisa menggantikan ulat yang sebenarnya?" Pak Profesor Belalang menggeleng lembut, "Tentu saja tidak. Ulat sesungguhnya memiliki peran penting dalam ekosistem, seperti membantu dalam penyerbukan bunga dan mendaur ulang material organik. Mainan ulat ini hanya untuk hiburan dan pembelajaran kita."
Halaman 15
Mendengar penjelasan Profesor Belalang, mereka semua merasa terinspirasi dan berjanji untuk lebih memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menghormati makhluk hidup. Kumbi, Mutmut, Pingu, dan Chaki sangat senang, mereka kembali mendapatkan pelajaran baru dari Pak Profesor Belalang, hingga saatnya pulang, mereka semua pulang dengan hati gembira sambil bercerita keseruan bermainnya hari ini.
Selesai.
Sumber Ide cerita :
https://pin.it/CZuAD16
https://www.instagram.com/p/CvAfdEihXus/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
Sabtu, 24 Juni 2023
Burung Gereja Yang Malang.
Burung Gereja Yang Malang.
Oleh: Sukma Ramadhan.
Halaman 1
Kumbi menatap anak Burung gereja yang tergeletak lemah di halaman rumahnya. Sepertinya Burung itu terjatuh saat hendak belajar terbang dan keadaannya tampak sangat menyedihkan. Kumbi merasa iba melihatnya dan merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk membantu burung gereja tersebut. Tanpa ragu, dia mengambil burung itu dengan lembut dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Halaman 2
Kumbi berusaha merawat burung gereja itu. Dia menyediakan sangkar yang nyaman, memberinya makanan dan minuman, tak lupa ia menghangatkan tubuh burung itu dengan menjemurnya di bawah terik matahari dan berharap burung itu akan segera pulih. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Setiap kali Kumbi memberikan makanan pada burung gereja, burung itu menolaknya dengan keras. Burung tersebut menolak setiap biji-bijian yang diberikan Kumbi, dan mulai menunjukkan tanda-tanda keadaan yang semakin parah.
Halaman 3
Kumbi merasa bingung dan kecewa. Dia tidak mengerti mengapa burung gereja tersebut tidak mau makan. Apakah dia melakukan sesuatu yang salah? Apakah burung itu tidak menyukai makanannya? Kumbi merasa putus asa karena tidak bisa membantu burung gereja yang dia rawat,dan betapa sedihnya Kumbi karena burung gereja yang malang itu akhirnya mati.
Halaman 4
Pada saat itu, Pak Profesor Belalang yang kebetulan lewat di depan rumah Kumbi melihat kesedihan di wajah Kumbi. Ia mendekati Kumbi dan bertanya, "Kenapa kamu menangis, Kumbi?."
Halaman 5
Kumbi, sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya, menjelaskan tentang burung gereja yang dia rawat dan masalahnya yang sulit dimengerti. Dia bercerita tentang bagaimana burung itu menolak makanan yang diberikan padanya.
Halaman 6
Dengan lembut, Pak Profesor Belalang menjelaskan kepada Kumbi tentang sifat alami burung gereja. Dia menjelaskan bahwa burung gereja adalah makhluk yang bebas, selalu merindukan kebebasannya di alam liar. Burung gereja tidak dapat hidup dalam penangkaran dan lebih memilih mati daripada kehilangan kebebasannya.
Halaman 7
"Kamu hebat, burung itu pasti sangat berterima kasih pada mu, karena kamu mau merawatnya dengan tulus, meskipun akhirnya burung itu mati, itu semua bukan sepenuhnya kesalahan mu, semua karena ia tidak mampu melawan kodrat sifat alaminya sendiri". Ujar Pak Profesor Belalang membesarkan hati Kumbi.
Halaman 8
Kumbi terkejut mendengar penjelasan itu. Dia tidak pernah tahu bahwa burung gereja memiliki sifat semacam itu. Dia mulai memahami mengapa burung itu menolak untuk makan, karena itu adalah caranya untuk menunjukkan bahwa dia ingin kembali ke alam bebasnya.
Halaman 9
Dengan sedikit penyesalan, Kumbi menyadari bahwa meskipun dia ingin memberikan cinta dan perhatian pada burung tersebut, tetapi apa yang dia berikan justru membuat burung gereja semakin menderita. Kumbi merasa bersalah karena tidak memahami keinginan dan sifat alami burung gereja.
Halaman 10
Pak Profesor Belalang memberikan pengertian kepada Kumbi bahwa kita sebagai manusia harus menghormati kebebasan alamiah makhluk lain. Kita tidak boleh memaksa mereka untuk hidup sesuai dengan keinginan kita. Burung gereja adalah simbol keindahan alam dan kebebasan, dan oleh karena itu, mereka seharusnya tetap berada di habitat alaminya.
Halaman 11
Akhirnya , Kumbi memahami pesan yang disampaikan oleh Pak Profesor Belalang. Dia merasa lega karena akhirnya mengerti mengapa burung gereja itu tidak mau makan dan mengapa burung gereja tidak bisa dipelihara. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih menghargai kebebasan dan alamiah setiap makhluk hidup.
Halaman 12
Atas saran Pak Profesor Belalang, Kumbi pun memutuskan untuk mengubur Burung gereja itu di pojok halaman rumahnya. Dalam hatinya, ia mulai menyadari betapa pentingnya menghormati kebebasan dan kehidupan alami makhluk lain, bahwa tidak semua makhluk dapat dipelihara ada kasih sayang yang lebih besar dengan membiarkan mereka hidup sesuai dengan sifat alami mereka.
Selesai.
Kebiasaan Buruk Chaki
Kebiasaan Buruk Chaki
Oleh: Sukma Ramadhan
Halaman 1:
Pagi itu, Chaki terlihat sangat sibuk seperti tak ada habisnya. Ia membersihkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar halaman rumahnya. Kejadian ini bukan kali pertama menimpa Chaki. Sampah-sampah selalu saja berterbangan ketika ada tiupan angin kencang.
Halaman 2:
Itu semua karena kebiasaan buruknya yang suka membuang sampah sembarangan. Dia sering menumpuk sampah begitu saja di setiap sudut halaman, bahkan dia lebih sering membuang sampah yang dia pegang begitu saja sesuka hatinya.
Halaman 3:
Namun, kali ini sampah yang berserakan terlalu banyak, membuat Chaki merasa risih sendiri. Dengan sedikit kesadaran yang ia miliki, ia pun merapikannya dengan kantung plastik yang kemudian ia gantungkan hampir di sekeliling pagar rumah nya.
Halaman 4:
Karena kali ini terlalu banyak sampah yang harus ia rapihkan, Chaki pun mulai kehabisan kantung plastik untuk membereskan sampah-sampahnya. Kemudian, ia pun menangguhkan pekerjaannya dan bergegas hendak ke rumah Kumbi untuk meminta kantung plastik seperti biasanya.
Halaman 5:
Baru saja ia keluar dari pintu pagar rumahnya, tiba-tiba sesuatu yang basah berlumpur menyemprot ke tubuh dan wajahnya. Ternyata itu cipratan air berlumpur dari genangan yang ada tepat di depan pagar rumahnya.
Halaman 6:
Air genangan itu terlindas kendaraan yang tengah melintas. Kumbi yang melihat kejadian itu pun mendekat dan bertanya apa yang telah terjadi. Setelah mendengar keluhan Chaki, Kumbi memberi jalan keluar yang cemerlang.
Halaman 7:
Kumbi menyarankan agar Chaki menggali lubang untuk tempat sampahnya, dan tanah sisa galiannya untuk menutup genangan lumpur yang ada di depan pagar rumahnya.
Halaman 8:
Akhirnya dibantu oleh Kumbi, Chaki pun menggali lubang tepat di sudut pagar rumahnya. Sementara dengan sisa tanah galiannya, Kumbi membantu menutupi genangan lumpur itu.
Halaman 9:
Tak lama, pekerjaan mereka pun selesai, dan kedua masalah Chaki pun terpecahkan sekaligus. Tak lupa, Kumbi pun berpesan agar Chaki tidak lagi membuang sampah sembarangan.
Halaman 10:
Seperti biasa, Chaki yang bengal hanya mengiyakan sambil melempar ke lubang galian, sisa kantung-kantung plastik berisi sampah yang masih tergantung di pagar rumahnya.
Selesai.
Minggu, 18 Juni 2023
Memancing Ikan
Oleh : Sukma Ramadhan
Halaman 1
Kumbi pergi memancing ikan bersama dengan tiga sahabatnya, yaitu Mutmut, Pingu, dan Chaki. Mereka memutuskan untuk pergi ke sungai yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Setelah sampai di sungai, mereka segera mempersiapkan alat pancing mereka.
Halaman 2
Tidak lama mereka pun mulai memancing, Mutmut melemparkan kailnya dan segera mendapatkan seekor ikan. Pingu dan Kumbi juga tidak kalah beruntung, mereka berhasil mendapatkan beberapa ekor ikan yang ukurannya lumayan besar, dan ada juga yang kecil.
Halaman 3
Namun, Chaki belum mendapatkan ikan apa pun. Ia mulai merasa sedikit kecewa. Tiba-tiba, kail yang dipegangnya seperti ditarik dengan sangat kuat. Chaki merasa senang dan berteriak sombong kepada teman-temannya, "Nah, ikan yang kudapat pasti lebih besar dari yang kalian semua dapatkan!"
Halaman 4
Namun, saat Chaki mengangkat kailnya, ia hanya menemukan sebuah ban motor bekas yang tersangkut di kailnya. Kumbi dan kawannya tertawa terbahak melihat hal itu. Chaki merasa marah dan dengan cepat merampas semua ikan yang berhasil didapatkan oleh teman-temannya, hanya menyisakan ikan-ikan kecil.
Halaman 5
Setelah itu, Chaki pulang lebih awal dengan wajah yang cemberut. Melihat teman-temannya sedih, Kumbi mencoba menghibur mereka. "Jangan khawatir, teman-teman. Mari kita pulang dan kita bisa bermain dengan ban bekas ini," ucap Kumbi dengan penuh semangat.
Halaman 6
Tiba di rumah, Kumbi segera mengambil ban bekas yang ditemukan oleh Chaki. Ia pun berpikir untuk membuat sesuatu yang bisa menghibur teman-temannya. Mutmut dan Pingu dengan antusias membantu Kumbi dalam membuat permainan dari ban bekas itu.
Halaman 7
Kumbi yang pandai dalam membuat mainan segera memulai proyeknya. Mereka membuat sebuah ayunan yang unik dari ban bekas tersebut. Dengan kreativitas mereka, ban bekas itu berubah menjadi ayunan yang luar biasa.
Halaman 8
Sementara mereka asyik bermain dan menikmati ayunan baru mereka, Chaki diam-diam mengintip dari balik jendela rumahnya. Ia merasa malu karena sudah merampas ikan-ikan yang didapatkan oleh teman-temannya. Ia ingin bergabung bermain, tetapi rasa malunya membuatnya ragu.
Halaman 9
Kumbi yang peka merasa ada yang tidak beres. Ia berhenti sejenak dari bermain dan memandang ke arah rumah Chaki. Ia melihat Chaki sedang mengintip dari balik jendela. Kumbi menyadari bahwa Chaki ingin bermain tetapi merasa malu.
Halaman 10
Kumbi mendekati jendela rumah Chaki dan dengan lembut mengetuknya. Chaki terkejut ketika melihat Kumbi di sana. "Hai, Chaki! Mengapa kau diam-diam mengintip dari balik jendela?" tanya Kumbi dengan lembut.
Halaman 11
Chaki merasa malu dan menunduk. "Maafkan aku, Kumbi. Aku merasa sangat menyesal telah merampas ikan-ikan yang kalian dapatkan. Aku ingin bergabung bermain dengan kalian, tapi aku merasa malu," ucap Chaki dengan sedih.
Halaman 12
Kumbi tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Chaki. "Jangan khawatir, Chaki. Kami memahamimu. Mari bergabung dengan kami. Kami semua sudah melupakan hal itu dan ingin bermain bersama," kata Kumbi dengan ramah.
Halaman 13
Chaki merasa hangat di hatinya mendengar kata-kata Kumbi. Ia pun menerima tawaran untuk bergabung bermain. Chaki bergabung dengan Kumbi, Mutmut, dan Pingu di ayunan dari ban bekas yang mereka buat. Semua bersenang-senang bersama.
Halaman 14
Ketika mereka bermain, tawa dan keceriaan memenuhi udara. Mereka saling tertawa dan melupakan kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya. Chaki merasa senang karena teman-temannya menerima permintaan maafnya.
Halaman 15
Akhirnya, hari bermain mereka berakhir dengan ceria. Mereka pulang dengan senyuman di wajah mereka. Mereka telah belajar pentingnya memaafkan dan saling mengerti. Persahabatan mereka semakin erat, dan mereka tahu bahwa tidak ada hal yang tidak dapat mereka atasi sebagai tim yang kuat










.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)








