Minggu, 18 Juni 2023

Memancing Ikan

Memancing Ikan

Oleh : Sukma Ramadhan

Halaman 1

Kumbi pergi memancing ikan bersama dengan tiga sahabatnya, yaitu Mutmut, Pingu, dan Chaki. Mereka memutuskan untuk pergi ke sungai yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Setelah sampai di sungai, mereka segera mempersiapkan alat pancing mereka.

Halaman 2

Tidak lama mereka pun mulai memancing, Mutmut melemparkan kailnya dan segera mendapatkan seekor ikan. Pingu dan Kumbi juga tidak kalah beruntung, mereka berhasil mendapatkan beberapa ekor ikan yang ukurannya lumayan besar, dan ada juga yang kecil.

Halaman 3

Namun, Chaki belum mendapatkan ikan apa pun. Ia mulai merasa sedikit kecewa. Tiba-tiba, kail yang dipegangnya seperti ditarik dengan sangat kuat. Chaki merasa senang dan berteriak sombong kepada teman-temannya, "Nah, ikan yang kudapat pasti lebih besar dari yang kalian semua dapatkan!"

Halaman 4

Namun, saat Chaki mengangkat kailnya, ia hanya menemukan sebuah ban motor bekas yang tersangkut di kailnya. Kumbi dan kawannya tertawa terbahak melihat hal itu. Chaki merasa marah dan dengan cepat merampas semua ikan yang berhasil didapatkan oleh teman-temannya, hanya menyisakan ikan-ikan kecil.

Halaman 5

Setelah itu, Chaki pulang lebih awal dengan wajah yang cemberut. Melihat teman-temannya sedih, Kumbi mencoba menghibur mereka. "Jangan khawatir, teman-teman. Mari kita pulang dan kita bisa bermain dengan ban bekas ini," ucap Kumbi dengan penuh semangat.

Halaman 6

Tiba di rumah, Kumbi segera mengambil ban bekas yang ditemukan oleh Chaki. Ia pun berpikir untuk membuat sesuatu yang bisa menghibur teman-temannya. Mutmut dan Pingu dengan antusias membantu Kumbi dalam membuat permainan dari ban bekas itu.

Halaman 7

Kumbi yang pandai dalam membuat mainan segera memulai proyeknya. Mereka membuat sebuah ayunan yang unik dari ban bekas tersebut. Dengan kreativitas mereka, ban bekas itu berubah menjadi ayunan yang luar biasa.

Halaman 8

Sementara mereka asyik bermain dan menikmati ayunan baru mereka, Chaki diam-diam mengintip dari balik jendela rumahnya. Ia merasa malu karena sudah merampas ikan-ikan yang didapatkan oleh teman-temannya. Ia ingin bergabung bermain, tetapi rasa malunya membuatnya ragu.

Halaman 9

Kumbi yang peka merasa ada yang tidak beres. Ia berhenti sejenak dari bermain dan memandang ke arah rumah Chaki. Ia melihat Chaki sedang mengintip dari balik jendela. Kumbi menyadari bahwa Chaki ingin bermain tetapi merasa malu.

Halaman 10

Kumbi mendekati jendela rumah Chaki dan dengan lembut mengetuknya. Chaki terkejut ketika melihat Kumbi di sana. "Hai, Chaki! Mengapa kau diam-diam mengintip dari balik jendela?" tanya Kumbi dengan lembut.

Halaman 11

Chaki merasa malu dan menunduk. "Maafkan aku, Kumbi. Aku merasa sangat menyesal telah merampas ikan-ikan yang kalian dapatkan. Aku ingin bergabung bermain dengan kalian, tapi aku merasa malu," ucap Chaki dengan sedih.

Halaman 12

Kumbi tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Chaki. "Jangan khawatir, Chaki. Kami memahamimu. Mari bergabung dengan kami. Kami semua sudah melupakan hal itu dan ingin bermain bersama," kata Kumbi dengan ramah.

Halaman 13

Chaki merasa hangat di hatinya mendengar kata-kata Kumbi. Ia pun menerima tawaran untuk bergabung bermain. Chaki bergabung dengan Kumbi, Mutmut, dan Pingu di ayunan dari ban bekas yang mereka buat. Semua bersenang-senang bersama.

Halaman 14

Ketika mereka bermain, tawa dan keceriaan memenuhi udara. Mereka saling tertawa dan melupakan kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya. Chaki merasa senang karena teman-temannya menerima permintaan maafnya.

Halaman 15

Akhirnya, hari bermain mereka berakhir dengan ceria. Mereka pulang dengan senyuman di wajah mereka. Mereka telah belajar pentingnya memaafkan dan saling mengerti. Persahabatan mereka semakin erat, dan mereka tahu bahwa tidak ada hal yang tidak dapat mereka atasi sebagai tim yang kuat

Sabtu, 17 Juni 2023

Mengapa Air Laut Berwarna Biru?







MENGAPA AIR LAUT BERWARNA

 BIRU?

Oleh : Sukma Ramadhan 


Halaman 1



Pingu, si pinguin yang lincah, melangkah dengan semangat menuju pantai, hari ini ia akan bermain bola bersama teman-temannya. Ia membawa sehelai kaus berwarna putih yang yang ia sangkutkan di pundaknya. Sambil berjalan, Pingu memandangi langit yang luas, membidik dengan imajinasinya ketika melihat burung-burung merpati berbulu putih terbang di kejauhan.


Halaman 2


Dengan cepat, Pingu mengambil ketapel yang selalu dibawanya dan mengarahkannya ke arah burung merpati yang bergerombol di udara. Dengan keahliannya, Pingu berhasil membidik salah satu merpati hingga jatuh tercebur di tepi laut yang airnya berwarna biru. Pingu pun dengan antusias berlari mendekati burung itu.


Halaman 3


Saat Pingu mengambil burung yang baru saja tercebur ke laut, dia terkejut melihat perubahan yang terjadi pada warna burung itu. Bulu-bulu putih yang sebelumnya menghiasi tubuh merpati tersebut berubah menjadi sebiru air laut yang indah. Pingu terpesona dan terpana dengan perubahan warna yang tiba-tiba itu.


Halaman 4


Sementara itu, Pingu merasa senang dengan perubahan warna yang dialami burung itu. Dalam benaknya, muncul suatu keinginan untuk merasakan perubahan yang sama. Pingu berpikir, mungkin saja dengan mencuci kaos putihnya di air laut yang biru, warna kaosnya akan berubah menjadi biru seperti yang dihayalkannya.


Halaman 5


Dengan segera, Pingu berlari menuju tepi pantai, karena di dorong perasaan ingin membuktikan semua khayalannya tentang burung merpati yang bisa  berubah warna karena terkena air laut. Rasa penasaran dan keinginan untuk merubah warna kausnya membuatnya melupakan rencana bermain bola dengan teman-temannya.


Halaman 6


Saat tengah asik mencuci, Pingu kedatangan teman-temannya yang antara lain Mutmut, Kumbi si kumbang pintar, dan Chaky si cicak yang nakal. Mereka kaget melihat Pingu tengah sibuk mencuci kaosnya dengan air laut, sementara mereka menunggu keseruan bermain bola bersama.


Halaman 7


Kumbi si kumbang yang penuh rasa ingin tahu akhirnya tak bisa menahan keingintahuannya dan bertanya kepada Pingu apa yang sedang dilakukannya. Pingu menjawab dengan ceria, bahwa ia sedang mencoba merubah warna kausnya menjadi biru agar serupa dengan seragam bola yang dikenakan oleh teman-temannya.


Halaman 8


Saat mendengar penjelasan Pingu, teman-temannya saling bertatapan, bingung dengan alasan Pingu yang terdengar aneh. Namun, keheranan mereka tidak berlangsung lama, karena secara tidak sengaja Pak Profesor Belalang yang kebetulan lewat mendengar percakapan mereka.


Halaman 9


Pak Profesor Belalang pun mendekati Pingu dan teman-temannya. Ia dengan lembut bertanya kepada mereka apa yang sedang mereka diskusikan. Dengan penuh semangat, Pingu menceritakan tentang keinginannya untuk merubah warna kausnya agar serupa dengan warna air laut yang biru.


Halaman 10


Dengan bijaksana, Pak Profesor Belalang menjelaskan kepada Pingu dan teman-temannya mengapa air laut berwarna biru. Ia menjelaskan bahwa warna biru pada air laut disebabkan oleh fenomena yang disebut hamburan Rayleigh.


Halaman 11


Pak Profesor Belalang menjelaskan bahwa partikel-partikel kecil di permukaan air laut, seperti molekul air, menyerap dan memantulkan cahaya matahari. Molekul air lebih efektif memantulkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek, yaitu warna biru, sehingga tampaklah warna biru pada air laut.


Halaman 12


Setelah mendengar penjelasan yang bijaksana dari Pak Profesor Belalang, Pingu tersenyum malu karena keinginannya yang sedikit naif. Pingu menyadari bahwa warna biru pada air laut tidak dapat begitu saja ditransfer ke benda lain seperti kaus. Namun, ia juga merasa senang karena telah mendapatkan pengetahuan baru.


Halaman 13


Kumbi, Mutmut, dan Chaky pun merasa senang karena mendapat penjelasan yang menarik dari Pak Profesor Belalang. Mereka merasa lebih mengerti tentang fenomena alam yang terjadi di sekitar mereka, termasuk mengapa air laut berwarna biru.


Halaman 14


Akhirnya, Pingu dan teman-temannya mengakhiri hari itu dengan bermain bola bersama di tepian pantai. Mereka saling tertawa dan berteriak kegirangan, sambil disaksikan oleh Pak Profesor Belalang yang melihat mereka dengan bangga. Mereka bahagia karena telah menemukan kegembiraan dan pengetahuan baru di tengah keindahan alam.

End.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa pengetahuan baru dapat ditemukan di tempat yang tak terduga, seperti saat Pingu ingin mengubah warna kausnya. Melalui penjelasan Pak Profesor Belalang, kita belajar tentang fenomena alam yang menarik dan mengapa air laut berwarna biru. Tapi yang terpenting, cerita ini mengajak kita untuk selalu menghargai dan bersenang-senang dengan teman-teman kita di tengah keindahan alam yang luar biasa.

Minggu, 10 Oktober 2021

Dibalik cerita


 

Pada jaman dahulu kala wkwkwk...saat masih kerja didaerah kalideres ( pulang seminggu sekali ) dipinggir tol sekitaran jati bening, ada pohon besar yang daunnya lumayan lebat ada beberapa layangan putus yang tersangkut diatasnya, dan ternyata saya lihat tiap minggunya semakin bertambah banyak saja layangan yang tersangkut disitu seperti mau mengalahkan jumlah daun aslinya. 

Kepingin rasanya mengabadikannya lewat camera buat dikirim ke majalah humor yang lagi top dijaman itu dengan rencana judul fotonya "pohon layangan", namun apa daya camera tak punya dan saat itu HP belum ada yang buang, jadi hp pun blm ditemukan. 

Nah ketika hendak melengkapi naskah yg mau di ajukan ke penerbit menjadi cerita ke delapan, akhirnya terciptalah cerita Pohon ini sebagai pelengkap yang saya beri judul Pohon Hantu.

Siapa sangka ilustrasi dibuku ini kemudian masuk nominasi di kategori ilustrasi terbaik buku cerita anak di acara Anugrah Adhikarya IKAPI disekitaran tahun 2001_2002.